Sabtu, 10 Oktober 2020

Catatan Mbak Nani di China #1

 Telepon yang Ditunggu

                                                  Bersama Mbak Vicka GTK yang cantik

       Sore itu seperti biasanya kulaju motor Satria kesayanganku dengan santai menuju rumah. Jarak rumah ke sekolah kurang lebih 42 km. Meski kadang lelah menghinggapi, aku tetap bahagia menjalankan tugasku mencerdaskan anak bangsa dengan menempuh berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Hampir 12 tahun aku mengemban tugas di SMP Negeri 1 Tumpang, Kabupaten Malang. Banyak yang tanya kenapa tidak mencari sekolah yang dekat dengan rumah saja, bukannya jarak dekat lebih efektif, apalagi kalau sekolahnya hanya 5 langkah dari rumah (jadi kayak lagu dangdut). Bagiku jarak itu bukan alasan untuk malkerja. Apakah Anda bisa menjamin jika jarak tempat kerja dekat rumah, kerja menjadi maksimal? Maaf, bukan bermaksud menyindir ya... Terkadang capek, malas, suasana hati, atau hal lain memberondongi tubuhku, apalagi jika musim hujan sudah tiba. Uhhh... tiap hari memakai mantel, tapi anggap saja sedang melakukan spa untuk menguruskan badan. Anda tak perlu membayangkan perjalan hidup saya terlalu ekstrem. Aku merasakan banyak pengalaman dan makna hidup yang telah kupelajari. Belajar dewasa menyikapi hidup, tak perlu mengeluh dengan apa yang terjadi, tetaplah bersyukur dengan apa yang kita terima.

       Sejam lebih 15 menit tak terasa telah kulalui. Kini aku sampai di rumah. Oh, ya banyak yang bertanya juga kenapa aku memilih motor Satria daripada matic. Jalan yang kulalui termasuk zona merah, sering ada begal. Selain itu, kondisi jalan yang naik turun, aspal yang tidak semulus pipi, bahkan ketika melewati jurang Pletes harus ekstra hati-hati supaya tidak tergelincir. Lagian aku bukanlah perempuan yang girly, aku tipe orang yang sportif. Jadi Satria lebih cocok dengan gayaku.

        Sesampai di rumah, kuhempaskan tubuhku ke sofa. aku teringat di perjalanan tadi, gawaiku terus saja bergetar, tapi kuabaikan. Toh, kalau penting nanti pasti akan telepon balik, pikirku. Kucari gawaiku di saku jaket, kucek ternyata nomor telepon 021.....  Wah, nomor Jakarta ternyata yang menelepon. Kutelepon balik ternyata tidak tersambung. Siapa tahu itu nomor kementerian yang ingin mengabarkan aku lolos diklat ke luar negeri. Maklumlah, hampir sebulan media sosial dibanjiri berita pengiriman guru ke luar negeri. Aku hopeless karena nama-nama guru yang lolos sudah beredar dan tidak ada namaku di sana. Aku cuma bisa senang melihat teman-temanku membuat status di WA, ig, fb, dan lain-lain bahwa mereka terpilih untuk mengikuti diklat di luar negeri 2 minggu mendatang. Mungkin belum rezeki, pikirku. Aku WA beberapa teman yang lolos untuk mengucapkan selamat dan semoga sekembalinya nanti mereka mau berbagi ilmu dan pengalamannya. Mereka sepertinya kikuk menjawab chatinganku. Mungkin mereka takut aku kecewa. Akupun sempat chatungan dengan Pakdhe Sutopo, jawara Inobel asal Demak, curhat kenapa kami tidak terpilih. Sepengetahuanku, yang dikirim diklat adalah guru-guru berprestasi yang pernah menjadi juara di ajang perlombaan nasional yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan. Sempat ada tanda tanya besar, aku kan juara, kok gak kepilih ya.... Lagi-lagi semuanya bergantung rezeki. Aku masih ingat obrolan santaiku bersama Mas Sutriono "Yoyok" Hariadi, jawara Inobel dari Probolinggo; Mas Eko Sudinuriyanto, Owner Sudi Media; dan dua finalis Inobel tahun 2019. Kala itu di peron Stasiun Kota Baru Malang kami ngobrol santai, tapi berbobot... seputar inovasi pembelajaran, inilah, itulah.... Tiba-tiba, Mas Yoyok ngendikan (berbicara), "Mas Eko kurang opo coba, kompetensi duwe, strategi duwe, inovasi yo muantep,.... sing kurang kui REZEKI." Kami pun terus ngobrol sambil becanda sembari menunggu kereta api datang. Semuanya kembali ke REZEKI, yang terpenting usaha kita maksimal, tentunya hasil tidak akan mengkhiati usaha.

       Magrib sepuluh menit lagi, gawaiku tiba-tiba bergetar. Pakdhe Sutopo memanggil. Kujawab dengan santai, "Wonten nopo, Bopo?" Beliau bercerita kalau terpilih untuk Diklat ke China. Katanya, namaku dan Abdul Hakim ada juga. Kami bertiga sama-sam guru bahasa Indonesia yang sering berlaga di ajang lomba yang diadakan Kesharlindungdikdas. Kadang jadi teman, kadang jadi lawan. Aku disuruh menunggu telepon dari Mbak Vicka katanya. Aku konfirmasi ke Abdul Hakim, guru Pupuk Kaltim, Bontang. Beliau mengiyakan berita tersebut. Ada rasa was-was menunggu telepon Mbak Vicka. Apakah aku betul-betul terpilih. Jam 5 sore menjelang mgrib gawaiku bergetar lagi, kulihat nomor tidak dikenal telepon melalui WA. Mungkinkan ini Mbak Vicka yang telepon. Gambling aja. Kuterima telepon itu dan ternyata benar. Mbak Vicka yang menelepon. Beliau menggabarkan bahwa aku terpilih menjadi peserta diklat ke China. Kaget bukan kepalang.... Ternyata ini bukan mimpi. Syukur, alhamdulillah. Kemudian aku sujud syukur. Lantas aku memberitahu keluargaku. Besoknya aku mengurus berkas-berkas yang diperlukan.

      Aku mendapatkan waktu seminggu menyelesaikan berkas-berkas. Aku harus meminta izin kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Awalnya pihak sekolah keberatan karena aku adalah guru yang mengajar mapel Unas. Apalagi, sebulan lagi, UNBK. tentunya bimbingan belajar lebih intensif lagi. aku berusaha meyakinkan pihak sekolah dan akhirnya diizinkan. Esoknya aku ke kantor dinas pendidikan dan kantor imigrasi. Seminggu aku berkeliling Malang Raya. Berangkat dari Sumawe menuju Tumpang, lalu ke Kepanjen, terus ke Arjosari, balik lagi Kepanjen, Tumpang, Sumawe. Tiap hari kuintip spidoku motorku hampir 200km. Ibarat Malang-Surabaya. Tak apalah, demi China. Seminggu kemudian semua bekasku selesai lalu kukirimkan ke Kementerian Pendidikan. 

      Itulah suka dukanya, berangkat menuju China.... Ada air mata bahagia, kecewa, bangga, bercampur jadi satu....


Nantikan kisah selanjutnya...


Kamis, 30 April 2020

Adiwiyata Mandiri


SMPN 1 Tumpang Sukses Raih Adiwiyata Mandiri
Oleh: Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Adiwiyata)


Rubiantono, ketua Adiwiyata, bersama Kepala SMPN 1 Wajak (kiri) dan Kabid SMP (tengah)

Akhir Desember 2019 SMPN 1 Tumpang meraih prestasi gemilang dalam bidang adiwiyata. Gelar “Adiwiyata Mandiri” diraih setelah sempat gagal di 2018 kemudian bangkit kembali untuk meraihnya. Raihan ini berkat kerja keras seluruh warga sekolah dan semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan ini, baik kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, komite, orang tua, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan kegiatan ini. Ucapan terima kasih tak lupa ditujukan untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Puskesmas Tumpang, Pemerintah Kecamatan Tumpang dan Desa Malangsuko, serta pihak-pihak terkait yang tidak dapat disebut satu per satu.
Pemberian penghargaan tertinggi “Adiwiyata Mandiri” diberikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, 13 Desember 2019. SMP Negeri 1 Tumpang berhasil meraih predikat sekolah adiwiyata mandiri 2019 bersama 2 sekolah lain (SMPN 1 Wajak dan SMPN 2 Kepanjen).
Adiwiyata merupakan program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Harapannya tiap warga sekolah ikut terlibat dalam upaya melestarikan, menjaga, dan mencegah kerusakan lingkungan. Berbagai upaya SMPN 1 Tumpang dilakukan untuk mewujudkan pembelajaran. pembiasaan peduli, dan berbudaya lingkungan, di antaranya menciptakan visi sekolah yaitu “Berimtaq, Berprestasi, Berbudaya Lingkungan, dan Berwawasan Global”. Tak mudah mewujudkan hal itu. Banyak tantangan intern maupun ekstern yang harus dihadapi.
Perjalanan SMP Negeri 1 Tumpang tidaklah mudah untuk meraih predikat tertinggi tersebut di bidang lingkungan. Perjalanan ini dimulai sejak tahun 2012 dengan meraih predikat sekolah adiwiyata kabupaten harus melengkapi berbagai persyaratan lomba, khususnya di bidang admisnitrasi yang tentu saja mencakup kurikulum yang bermuatan lingkungan. Persyaratan lolos adiwiyata mandiri cukup sulit, mulai mengumpulkan macroexcel adiwiyata dengan berbagai data dan bukti pendukung serta visitasi dari Tim Penilai Jakarta.
SMP  Negeri 1 Tumpang memunyai moto Be Clean, Be Green, Be Smart, dan  Be  Higienis.  Pelestarian  lingkungan  dapat  dilakukan  dari  hal  kecil,  seperti membuang sampah sesuai jenisnya di tempat sampah. SMP Negeri 1 Tumpang memunyai    gerakan    peduli    lingkungan    yang    disebut    Gerakan    6M    peduli lingkungan   di   SMP   Negeri   1   Tumpang   yaitu   (1)   mendaur   ulang   sampah anorganik;  (2)  mengaktifkan  gerakan  jumat  bersih;  (3)  mematikan  listrik  setelah selesai  digunakan;  (4)  memanfaatkan  air  secukupnya;  (5)  mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, (6) melakukan  reboisasi.
Upaya yang telah dilakukan di SMP Negeri 1 Tumpang dalam menyukseskan adiwiyata mandiri, yaitu mendaur ulang sampah anorganik. Sampah-sampah anorganik yang masih dapat dimanfaatkan dipilih dan dipilah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Kader lingkungan kelompok kerja "Daur Ulang" mengolah sampah anorganik tersebut menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Sampah anorganik disulap menjadi baju daur ulang, tas, dompet, sandal, dan tempat tisu yang cantik. Hari Bumi tahun 2019 diperingati dengan mengadakan lomba kreasi dan fashion show baju daur ulang per kelas.
Upaya lain yaitu menjaga konsistensi dan komitmen tersebut tidaklah mudah. Diperlukan karakter yang kuat untuk menjadi warga sekolah yang ramah terhadap lingkungan. Berbagai kegiatan juga dilakukan baik bagi warga sekolah sendiri maupun bekerja sama dengan pihak Komite Sekolah atau instansi-instansi di luar sekolah, misal dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Puskesmas Tumpang, Muspika, PT Sosro Indonesia, CV Tirta Kanjuruhan, dan lain-lain. Selain itu, gerakan jumat bersih digalakkan sebelum jam pertama dimulai. Jumat pagi diawali dengan membaca surat yasin dan asmaul husna bersama-sama, kemudian membersihkan kelas dan taman masing-masing kelas. memilih dan memilah sampai menjadi agenda rutin tiap jumat.











Selasa, 28 April 2020

SMPN 1 TUMPANG JUARA OPSI 2019


SRHD Antarkan SMPN 1 Tumpang Raih Perunggu
Oleh: Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd. (Guru Bahasa Indonesia dan Pembimbing OPSI)

Iswardanny, dkk torehkan prestasi di tingkat nasional

Torehan prestasi di tingkat nasional diraih Iswardanny, dkk pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) November 2019 lalu. Medali perunggu diraih Tim OPSI SMPN 1 Tumpang yang terdiri atas Iswardanny Rezafarabi (Ketua), Labib Rof’ul Hikam, dan Lutfiatul Adinda Putri pada kategori IPA dan lingkungan. Mereka masih duduk di kelas VIII. Pembimbingan secara intensif dilakukan oleh Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd., Umi Chapsah, S.Pd., M.M.Pd., dan Raka Iqbal R. sebelum berangkat ke Jakarta, mulai teknik penulisan, praktik alat pendeteksi, pembuatan produk, dan latihan presentasi.
Penelitian mereka berjudul “Solar Radiation Heat Detector untuk Menanggulangi Bencana Kebakaran Hutan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Solar Radiation Heat Detector berhasil membuat alat pendeteksi kebakaran ini. Keunggulan dari Solar Radiation Heat Detector ini adalah mudah dibuat, harganya murah, praktis, dan bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah. SMPN 1 Tumpang sebagai sekolah adiwiyata wajib memberikan sumbangsihnya untuk negara dalam upaya perlindungan, pelestarian, dan pencegahan lingkungan dengan membuat inovasi alat penanggulangan kebakaran hutan. Selain itu, bencana kebakaran hutan yang melanda Indonesia merupakan permasalahan yang sangat serius untuk segera dituntaskan di Indonesia. Hutan Indonesia yang begitu luas mudah terbakar menjadi prioritas yang harus segera dicari jalan keluarnya.
Jumat, 29 November 2019 dilaksanakan upacara penutupan dengan meriah dan penuh khidmat. Penutupan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tahun 2019 yang ditutup secara resmi oleh Dra. Poppy Dewi Puspitawati, MA., Direktur Direktorat Pembinaan SMP, di El Royale Hotel, Kelapa gading pukul 21.00 WIB.
Inspirasi untuk jutaan siswa SMP yang berada di seluruh Indonesia disebar dalam OPSI tahun ini. Berdasarkan hasil penilaian sebanyak 875 naskah terlah terpilih sebanyak 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan, 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan dan Seni, 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa. Ada 102 finalis yang hadir dan dapat mengimbaskan, memotivasi, dan menginspirasi siswa Indoesia untuk meneliti. Harapan ke depannya siswa mampu menyongsong Indonesia emas dan mempertahankannya. Melalui kegitan ini, siswa dapat mengembangkan penelitiannya serta meneliti berbagai hal dan akan bermanfaat serta berguna bagi pendidikan, pengetahuan, sosial dan lingkungan di Indonesia.
Tema “Generasi Peneliti Menuju Indonesia Emas” dipilih untuk memotivasi siswa-siswa SMP lainnya untuk gemar meneliti. Kategori yang dilombakan pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) SMP 2019 yaitu bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan, Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan dan Seni dan Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa. Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) adalah suatu kegiatan penelitian siswa yang diarahkan pada pengembangan IPTEK dan ditulis dalam sebuah makalah ilmiah sebagai bahan penilaian dalam kompetisi ilmiah. OPSI diharapkan mampu meningkatkan kemampuan Empat K (berpikir Kritis, Kreatifitas, Kolaborasi, dan Komunikasi) dengan memanfaatkan sumber daya sekitar demi memberi nilai tambah masyarakat. OPSI merupakan ajang penyaluran bakat meneliti bagi siswa SMP bermutu, berkarakter, dan berintegritas menuju Indonesia emas 2045.