Rabu, 26 Mei 2021

Modul 1.1 Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Oleh: Nani Nurcahyani 
(CGP Angkatan Ke-2 Kabupaten Malang: Kelas 14)

     Ada banyak hal yang telah saya pelajari setelah terpilih menjadi Calon Guru Penggerak (CGP) angkatan ke-2 Kabupaten Malang. Rasa syukur kepada Allah SWT karena memberikan kesempatan kepada saya untuk menambah ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang begitu luar biasa. Bercerita sedikit ke belakang, saya adalah guru yang haus ilmu dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, banyak kegiatan saya ikuti demi meningkatkan profesionalitas dan pengembangan diri. Saya sering mengikuti diklat, seminar, workshop, maupun kegiatan ilmiah lainnya, baik dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). Saya selalu mengupgrade pengetahuan saya, bahkan ada yang bilang kalau saya rakus ilmu, semua kegiatan diikuti. Saya berupaya menjadi guru ideal yang selalu dirindukan murid-murid dengan menerapkan ilmu yang saya peroleh, baik tentang metode, media, dan strategi pembelajaran agar murid-murid aktif dalam pembelajaran. Selain itu, saya juga mencoba membuat pembelajaran yang menyenangkan dengan menyelipkan permainan dalam pembelajaran. Saya merasa bahwa pembelajaran sudah mengarah pada student oriented, tetapi setelah mempelajari modul CGP yang berisi pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) ini, ternyata apa yang saya lakukan masih belum ada apa-apanya. Saya belum paham hakikat merrdeka belajar yang sesungguhnya.

Hal yang saya pelajari dari  Program Guru Penggerak (PGP) adalah guru merupakan pemimpin pembelajaran yang menerapkan merrdeka belajar menuju pendidikan berkualitas dan berbudi pekerti luhur. Guru mempunyai tugas untuk (1) menuntun anak dalam hidupnya. Artinya, tiap anak memiliki kodrat alam  yang berbeda. Tiap anak mempunyai karakter yang berbeda, asal mereka berbeda, latar belakang juga berbeda, kemampuan untuk menerima ilmu itu pun juga berbeda maka guru tidak selayaknya memberikan perlakuan yang sama.  Guru harus mampu memilih metode dan strategi yang tepat agar mampu menuntun semua anak sesuai kodrat alamnya. Anak diberi kebebasan untuk mengeksplore dirinya dalam bidang akademik maupun nonakademik sesuai bakat dan minatnya. Guru adalah (2) petani. Guru merupakan penyemai benih-benih menjadi unggul, berkualitas, dan berkarakter. Guru harus mampu membimbing murid bagaimanapun kemampuan yang dimilikinya agar menjadi murid cerdas berkarakter menuju Indonesia emas 2045. Guru adalah teladan dalam penanaman (3) budi pekerti.  Tugas gurulah menuntun siswa agar mempunyai budi pekerti yang luhur. Guru harus mampu memahami kodrat alam anak. Anak suka (4) bermain. Di dalam pembelajaran selayaknya diselipkan permainan agar anak tidak merasa bosan. Anak akan merasa jenuh jika guru hanya berkutat pada materi. Misalnya bermain Menara kartu, roda berputar, atau kalau bisa permainan tradisional untuk melestarikan kearifan lokal budaya setempat. Disadari maupun tidak, bermain mampu memberikan atmosfer positif dalam diri anak. Anak belajar bekerja sama, sportif, percaya diri, bertanggung jawab dan lainnya. Guru hendaknya melaksanakan pembelajaran yang (5) berpusat pada anak.  Pembelajaran yang membuat anak aktif dan kreatif akan lebih bermakna.

Saya mempunyai pengalaman baru ketika menjadi satu kelompok dengan guru TK dan SD. Saya harus bisa lebih wise/bijaksana dalam bersikap dan bertutur karena pola pikir yang berbeda. Saya harus lebih bisa menjaga ego dan memiliki sikap inklusif  karena kami sama-sama belajar. Saya dan rekan saya, Bu Herlin, agak kaget tetapi kami berupaya menyesuaikan diri karena tujuan kami sama yaitu “LULUS BERSAMA”. Saya belajar menghargai dan menghormati mereka. Saya akan berkolaborasi denganmereka selama 9 bulan ini.

Ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang saya dapatkan dalam PGP ini menjadi kekuatan baru dalam menerapkan merrdeka belajar berdasarkan pemikiran KHD. Kelebihan yang saya miliki dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) akan saya bagi kepada teman-teman sesama CGP. Saya akan berkolaborasi dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas terutama dalam pembuatan video pembelajaran. Kekuatan yang bisa menjadi kelemahan saya adalah kerja cepat. Saya harus bisa menyesuaikan diri dengan cara kerja kelompok dan saling mendukung. Setelah saya mempelajari modul ini lebih mendalam, saya mempunyai semangat baru untuk menerapkan merrdeka belajar sesuai ajaran KHD, ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, menuju Indonesia emas 2045. Saya ingin menerapkan pembelajaran yang “berpihak pada anak” dengan memetakan kodrat alam dan zaman anak dan memilih metode pembelajaran yang berpusat pada anak yaitu Discovery/Inquiry Learning, Problem Based Learning, Project Based Learning dan menanamkan budi pekerti luhur sehingga mampu membuat pembelajaran menjadi bermutu dan menyenangkan.

Tantangan yang saya hadapi adalah jarak dan waktu. Saya harus pulang sore dan mengatur waktu mengerjakan LMS. Kondisi ini tidak membuat saya patah semangat. Saya yakin saya pasti bisa. Solusinya adalah tetap semangat, manajemen waktu yang baik, dan berkolaborasi dengan teman CGP.

Perubahan diri yang saya lakukan adalah belajar harus lebih giat dan semangat menjadi guru sesuai pemikiran KHD. Saya akan lebih telaten, mawas diri, mampu berkolaborasi, bekerja sama, dan saling membantu untuk mencapai tujuan menjadi guru penggerak dan menjadi transformasi pendidikan di Indonesia. Saya akan selalu berbagi praktik baik dalam pembelajaran. Saya akan memanajemen waktu saya agar dapat menyelesaiak tugas tepat waktu, serta tak kalah pentingnya dalah menjaga kesehatan, Saya akan selalu berdiskusi dengan fasilitator dan pengajar praktik tentang kendala yang saya hadapi.

Perubahan konkret yang saya lakukan adalah menerapkan pembelajaran berpihak pada anak, sementara ini masih daring persiapan luring. Saya akan memetakan kodrat alam anak agar saya dapat memilih metode yang tepat dalam pembelajaran agar tujuan dapat tercapai. Saya akan menyesuaikan pembelajaran sesuai kodrat zaman anak yaitu memanfaatkan teknologi dengan membuat inovasi berupa aplikasi pembelajaran berbasis TIK. Saya akan menjadi “petani” yang mampu menyemai benih-benih dengan berbagi kondisi alamnya sehingga kelak menjadi anak yang cerdas berkarakter. Saya juga akan lebih sering mengadakan permainan yang menstimulus motorik anak. TEtap berkolaborasi dengan kelompok demi menjadi GP yang sesuai ajaran KHD.


                                                                              Pendampingan dari Fasiliator

Link you tube : https://www.youtube.com/watch?v=K42KauXJbCM&t=368s


Sabtu, 10 Oktober 2020

Catatan Mbak Nani di China #1

 Telepon yang Ditunggu

                                                  Bersama Mbak Vicka GTK yang cantik

       Sore itu seperti biasanya kulaju motor Satria kesayanganku dengan santai menuju rumah. Jarak rumah ke sekolah kurang lebih 42 km. Meski kadang lelah menghinggapi, aku tetap bahagia menjalankan tugasku mencerdaskan anak bangsa dengan menempuh berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Hampir 12 tahun aku mengemban tugas di SMP Negeri 1 Tumpang, Kabupaten Malang. Banyak yang tanya kenapa tidak mencari sekolah yang dekat dengan rumah saja, bukannya jarak dekat lebih efektif, apalagi kalau sekolahnya hanya 5 langkah dari rumah (jadi kayak lagu dangdut). Bagiku jarak itu bukan alasan untuk malkerja. Apakah Anda bisa menjamin jika jarak tempat kerja dekat rumah, kerja menjadi maksimal? Maaf, bukan bermaksud menyindir ya... Terkadang capek, malas, suasana hati, atau hal lain memberondongi tubuhku, apalagi jika musim hujan sudah tiba. Uhhh... tiap hari memakai mantel, tapi anggap saja sedang melakukan spa untuk menguruskan badan. Anda tak perlu membayangkan perjalan hidup saya terlalu ekstrem. Aku merasakan banyak pengalaman dan makna hidup yang telah kupelajari. Belajar dewasa menyikapi hidup, tak perlu mengeluh dengan apa yang terjadi, tetaplah bersyukur dengan apa yang kita terima.

       Sejam lebih 15 menit tak terasa telah kulalui. Kini aku sampai di rumah. Oh, ya banyak yang bertanya juga kenapa aku memilih motor Satria daripada matic. Jalan yang kulalui termasuk zona merah, sering ada begal. Selain itu, kondisi jalan yang naik turun, aspal yang tidak semulus pipi, bahkan ketika melewati jurang Pletes harus ekstra hati-hati supaya tidak tergelincir. Lagian aku bukanlah perempuan yang girly, aku tipe orang yang sportif. Jadi Satria lebih cocok dengan gayaku.

        Sesampai di rumah, kuhempaskan tubuhku ke sofa. aku teringat di perjalanan tadi, gawaiku terus saja bergetar, tapi kuabaikan. Toh, kalau penting nanti pasti akan telepon balik, pikirku. Kucari gawaiku di saku jaket, kucek ternyata nomor telepon 021.....  Wah, nomor Jakarta ternyata yang menelepon. Kutelepon balik ternyata tidak tersambung. Siapa tahu itu nomor kementerian yang ingin mengabarkan aku lolos diklat ke luar negeri. Maklumlah, hampir sebulan media sosial dibanjiri berita pengiriman guru ke luar negeri. Aku hopeless karena nama-nama guru yang lolos sudah beredar dan tidak ada namaku di sana. Aku cuma bisa senang melihat teman-temanku membuat status di WA, ig, fb, dan lain-lain bahwa mereka terpilih untuk mengikuti diklat di luar negeri 2 minggu mendatang. Mungkin belum rezeki, pikirku. Aku WA beberapa teman yang lolos untuk mengucapkan selamat dan semoga sekembalinya nanti mereka mau berbagi ilmu dan pengalamannya. Mereka sepertinya kikuk menjawab chatinganku. Mungkin mereka takut aku kecewa. Akupun sempat chatungan dengan Pakdhe Sutopo, jawara Inobel asal Demak, curhat kenapa kami tidak terpilih. Sepengetahuanku, yang dikirim diklat adalah guru-guru berprestasi yang pernah menjadi juara di ajang perlombaan nasional yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan. Sempat ada tanda tanya besar, aku kan juara, kok gak kepilih ya.... Lagi-lagi semuanya bergantung rezeki. Aku masih ingat obrolan santaiku bersama Mas Sutriono "Yoyok" Hariadi, jawara Inobel dari Probolinggo; Mas Eko Sudinuriyanto, Owner Sudi Media; dan dua finalis Inobel tahun 2019. Kala itu di peron Stasiun Kota Baru Malang kami ngobrol santai, tapi berbobot... seputar inovasi pembelajaran, inilah, itulah.... Tiba-tiba, Mas Yoyok ngendikan (berbicara), "Mas Eko kurang opo coba, kompetensi duwe, strategi duwe, inovasi yo muantep,.... sing kurang kui REZEKI." Kami pun terus ngobrol sambil becanda sembari menunggu kereta api datang. Semuanya kembali ke REZEKI, yang terpenting usaha kita maksimal, tentunya hasil tidak akan mengkhiati usaha.

       Magrib sepuluh menit lagi, gawaiku tiba-tiba bergetar. Pakdhe Sutopo memanggil. Kujawab dengan santai, "Wonten nopo, Bopo?" Beliau bercerita kalau terpilih untuk Diklat ke China. Katanya, namaku dan Abdul Hakim ada juga. Kami bertiga sama-sam guru bahasa Indonesia yang sering berlaga di ajang lomba yang diadakan Kesharlindungdikdas. Kadang jadi teman, kadang jadi lawan. Aku disuruh menunggu telepon dari Mbak Vicka katanya. Aku konfirmasi ke Abdul Hakim, guru Pupuk Kaltim, Bontang. Beliau mengiyakan berita tersebut. Ada rasa was-was menunggu telepon Mbak Vicka. Apakah aku betul-betul terpilih. Jam 5 sore menjelang mgrib gawaiku bergetar lagi, kulihat nomor tidak dikenal telepon melalui WA. Mungkinkan ini Mbak Vicka yang telepon. Gambling aja. Kuterima telepon itu dan ternyata benar. Mbak Vicka yang menelepon. Beliau menggabarkan bahwa aku terpilih menjadi peserta diklat ke China. Kaget bukan kepalang.... Ternyata ini bukan mimpi. Syukur, alhamdulillah. Kemudian aku sujud syukur. Lantas aku memberitahu keluargaku. Besoknya aku mengurus berkas-berkas yang diperlukan.

      Aku mendapatkan waktu seminggu menyelesaikan berkas-berkas. Aku harus meminta izin kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Awalnya pihak sekolah keberatan karena aku adalah guru yang mengajar mapel Unas. Apalagi, sebulan lagi, UNBK. tentunya bimbingan belajar lebih intensif lagi. aku berusaha meyakinkan pihak sekolah dan akhirnya diizinkan. Esoknya aku ke kantor dinas pendidikan dan kantor imigrasi. Seminggu aku berkeliling Malang Raya. Berangkat dari Sumawe menuju Tumpang, lalu ke Kepanjen, terus ke Arjosari, balik lagi Kepanjen, Tumpang, Sumawe. Tiap hari kuintip spidoku motorku hampir 200km. Ibarat Malang-Surabaya. Tak apalah, demi China. Seminggu kemudian semua bekasku selesai lalu kukirimkan ke Kementerian Pendidikan. 

      Itulah suka dukanya, berangkat menuju China.... Ada air mata bahagia, kecewa, bangga, bercampur jadi satu....


Nantikan kisah selanjutnya...


Kamis, 30 April 2020

Adiwiyata Mandiri


SMPN 1 Tumpang Sukses Raih Adiwiyata Mandiri
Oleh: Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Adiwiyata)


Rubiantono, ketua Adiwiyata, bersama Kepala SMPN 1 Wajak (kiri) dan Kabid SMP (tengah)

Akhir Desember 2019 SMPN 1 Tumpang meraih prestasi gemilang dalam bidang adiwiyata. Gelar “Adiwiyata Mandiri” diraih setelah sempat gagal di 2018 kemudian bangkit kembali untuk meraihnya. Raihan ini berkat kerja keras seluruh warga sekolah dan semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan ini, baik kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, komite, orang tua, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan kegiatan ini. Ucapan terima kasih tak lupa ditujukan untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Puskesmas Tumpang, Pemerintah Kecamatan Tumpang dan Desa Malangsuko, serta pihak-pihak terkait yang tidak dapat disebut satu per satu.
Pemberian penghargaan tertinggi “Adiwiyata Mandiri” diberikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, 13 Desember 2019. SMP Negeri 1 Tumpang berhasil meraih predikat sekolah adiwiyata mandiri 2019 bersama 2 sekolah lain (SMPN 1 Wajak dan SMPN 2 Kepanjen).
Adiwiyata merupakan program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Harapannya tiap warga sekolah ikut terlibat dalam upaya melestarikan, menjaga, dan mencegah kerusakan lingkungan. Berbagai upaya SMPN 1 Tumpang dilakukan untuk mewujudkan pembelajaran. pembiasaan peduli, dan berbudaya lingkungan, di antaranya menciptakan visi sekolah yaitu “Berimtaq, Berprestasi, Berbudaya Lingkungan, dan Berwawasan Global”. Tak mudah mewujudkan hal itu. Banyak tantangan intern maupun ekstern yang harus dihadapi.
Perjalanan SMP Negeri 1 Tumpang tidaklah mudah untuk meraih predikat tertinggi tersebut di bidang lingkungan. Perjalanan ini dimulai sejak tahun 2012 dengan meraih predikat sekolah adiwiyata kabupaten harus melengkapi berbagai persyaratan lomba, khususnya di bidang admisnitrasi yang tentu saja mencakup kurikulum yang bermuatan lingkungan. Persyaratan lolos adiwiyata mandiri cukup sulit, mulai mengumpulkan macroexcel adiwiyata dengan berbagai data dan bukti pendukung serta visitasi dari Tim Penilai Jakarta.
SMP  Negeri 1 Tumpang memunyai moto Be Clean, Be Green, Be Smart, dan  Be  Higienis.  Pelestarian  lingkungan  dapat  dilakukan  dari  hal  kecil,  seperti membuang sampah sesuai jenisnya di tempat sampah. SMP Negeri 1 Tumpang memunyai    gerakan    peduli    lingkungan    yang    disebut    Gerakan    6M    peduli lingkungan   di   SMP   Negeri   1   Tumpang   yaitu   (1)   mendaur   ulang   sampah anorganik;  (2)  mengaktifkan  gerakan  jumat  bersih;  (3)  mematikan  listrik  setelah selesai  digunakan;  (4)  memanfaatkan  air  secukupnya;  (5)  mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, (6) melakukan  reboisasi.
Upaya yang telah dilakukan di SMP Negeri 1 Tumpang dalam menyukseskan adiwiyata mandiri, yaitu mendaur ulang sampah anorganik. Sampah-sampah anorganik yang masih dapat dimanfaatkan dipilih dan dipilah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Kader lingkungan kelompok kerja "Daur Ulang" mengolah sampah anorganik tersebut menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Sampah anorganik disulap menjadi baju daur ulang, tas, dompet, sandal, dan tempat tisu yang cantik. Hari Bumi tahun 2019 diperingati dengan mengadakan lomba kreasi dan fashion show baju daur ulang per kelas.
Upaya lain yaitu menjaga konsistensi dan komitmen tersebut tidaklah mudah. Diperlukan karakter yang kuat untuk menjadi warga sekolah yang ramah terhadap lingkungan. Berbagai kegiatan juga dilakukan baik bagi warga sekolah sendiri maupun bekerja sama dengan pihak Komite Sekolah atau instansi-instansi di luar sekolah, misal dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Puskesmas Tumpang, Muspika, PT Sosro Indonesia, CV Tirta Kanjuruhan, dan lain-lain. Selain itu, gerakan jumat bersih digalakkan sebelum jam pertama dimulai. Jumat pagi diawali dengan membaca surat yasin dan asmaul husna bersama-sama, kemudian membersihkan kelas dan taman masing-masing kelas. memilih dan memilah sampai menjadi agenda rutin tiap jumat.











Selasa, 28 April 2020

SMPN 1 TUMPANG JUARA OPSI 2019


SRHD Antarkan SMPN 1 Tumpang Raih Perunggu
Oleh: Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd. (Guru Bahasa Indonesia dan Pembimbing OPSI)

Iswardanny, dkk torehkan prestasi di tingkat nasional

Torehan prestasi di tingkat nasional diraih Iswardanny, dkk pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) November 2019 lalu. Medali perunggu diraih Tim OPSI SMPN 1 Tumpang yang terdiri atas Iswardanny Rezafarabi (Ketua), Labib Rof’ul Hikam, dan Lutfiatul Adinda Putri pada kategori IPA dan lingkungan. Mereka masih duduk di kelas VIII. Pembimbingan secara intensif dilakukan oleh Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd., Umi Chapsah, S.Pd., M.M.Pd., dan Raka Iqbal R. sebelum berangkat ke Jakarta, mulai teknik penulisan, praktik alat pendeteksi, pembuatan produk, dan latihan presentasi.
Penelitian mereka berjudul “Solar Radiation Heat Detector untuk Menanggulangi Bencana Kebakaran Hutan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Solar Radiation Heat Detector berhasil membuat alat pendeteksi kebakaran ini. Keunggulan dari Solar Radiation Heat Detector ini adalah mudah dibuat, harganya murah, praktis, dan bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah. SMPN 1 Tumpang sebagai sekolah adiwiyata wajib memberikan sumbangsihnya untuk negara dalam upaya perlindungan, pelestarian, dan pencegahan lingkungan dengan membuat inovasi alat penanggulangan kebakaran hutan. Selain itu, bencana kebakaran hutan yang melanda Indonesia merupakan permasalahan yang sangat serius untuk segera dituntaskan di Indonesia. Hutan Indonesia yang begitu luas mudah terbakar menjadi prioritas yang harus segera dicari jalan keluarnya.
Jumat, 29 November 2019 dilaksanakan upacara penutupan dengan meriah dan penuh khidmat. Penutupan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tahun 2019 yang ditutup secara resmi oleh Dra. Poppy Dewi Puspitawati, MA., Direktur Direktorat Pembinaan SMP, di El Royale Hotel, Kelapa gading pukul 21.00 WIB.
Inspirasi untuk jutaan siswa SMP yang berada di seluruh Indonesia disebar dalam OPSI tahun ini. Berdasarkan hasil penilaian sebanyak 875 naskah terlah terpilih sebanyak 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan, 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan dan Seni, 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa. Ada 102 finalis yang hadir dan dapat mengimbaskan, memotivasi, dan menginspirasi siswa Indoesia untuk meneliti. Harapan ke depannya siswa mampu menyongsong Indonesia emas dan mempertahankannya. Melalui kegitan ini, siswa dapat mengembangkan penelitiannya serta meneliti berbagai hal dan akan bermanfaat serta berguna bagi pendidikan, pengetahuan, sosial dan lingkungan di Indonesia.
Tema “Generasi Peneliti Menuju Indonesia Emas” dipilih untuk memotivasi siswa-siswa SMP lainnya untuk gemar meneliti. Kategori yang dilombakan pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) SMP 2019 yaitu bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan, Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan dan Seni dan Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa. Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) adalah suatu kegiatan penelitian siswa yang diarahkan pada pengembangan IPTEK dan ditulis dalam sebuah makalah ilmiah sebagai bahan penilaian dalam kompetisi ilmiah. OPSI diharapkan mampu meningkatkan kemampuan Empat K (berpikir Kritis, Kreatifitas, Kolaborasi, dan Komunikasi) dengan memanfaatkan sumber daya sekitar demi memberi nilai tambah masyarakat. OPSI merupakan ajang penyaluran bakat meneliti bagi siswa SMP bermutu, berkarakter, dan berintegritas menuju Indonesia emas 2045.







Senin, 23 September 2019


Guru Pinggiran Kabupaten Malang Belajar STEAM dan HOTS di China


Nani Nurcahyani (pertama dari kiri) bersama Kepala Dirjen GTK, Dr. Praptono, M.Pd. (tengah)

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Pepatah ini benar-benar dialami Nani Nurcahyani, guru SMP Negeri 1 Tumpang, Kabupaten Malang. Bagai mendapat durian jatuh, perempuan 35 tahun ini terpilih menjadi peserta Pelatihan Guru ke Luar Negeri di Republik Rakyat China yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd. adalah guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Tumpang. Perempuan ini mendapat kesempatan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Guru ke Luar Negeri di Republik Rakyat China yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Peserta diklat berjumlah 50 guru berprestasi yang berasal dari seluruh Indonesia dan 2 staf GTK. Nani sendiri terpilih setelah menjadi Juara II Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) Tingkat Nasional Tahun 2018. Diklat ini dilaksanakan pada 3-24 Maret 2019 berpusat di China University of Mining and Technology (CUMT) yang berada di Kota Xuzhou Provinsi Jiangsu.
Materi yang didapatkan di diklat tersebut adalah STEM (Science Technology Enginering Mathematic) dan HOTS (High Order Thinking Skills). Jika di Indonesia sedang ‘booming’ tentang STEM, China sudah lama mengaplikasikannya, bahkan menambah satu unsur lagi yaitu “A” menjadi STEAM (Science Technology Enginering Art Mathematic). Unsur ‘Art’ juga diprioritaskan dalam pembelajaran di China. Bagaimana mereka mengajar tidak hanya dengan berbagai kecanggihan IT, tetapi juga dengan seni, baik seni mengajar, berkarya, membuat produk, dan lain sebagainya.  Tak hanya itu, Pemerintah China juga memberikan gambaran kemajuan pendidikan di China, baik kurikulum maupun inovasi di sana.
Pendidikan STEAM di China mencakup mata pelajaran, seni, robotik, edukasi kreatif, dan pendidikan karakter. Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat di China memudahkan pemerintah China untuk mengaplikasikan pembelajaran berbasis STEAM. Pembelajaran STEAM tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan pada ranah sains, teknologi, engineering, dan matematika saja, tetapi juga pada pemanfaatan ilmu tersebut sebagai basis pembelajaran dan pengembangan potensi siswa sehingga hardskill dan softkillnya  seimbang. Selain STEAM, penerapan HOTS  tidak hanya sekadar berpikir, tetapi juga belajar tentang proses berpikir tingkat tinggi dan kreatif.
Saya tidak hanya mendapatkan STEAM dan HOTS saja, ada hal yang begitu menonjol dari pendidikan di China yaitu pendidikan karakter. 
Selain kegiatan di kampus CUMT, peserta diklat juga diajak visitasi ke sekolah, kampus, perusahan robotik, dan pusat kebudayaan di China. Sekolah yang dikunjungi merupakan sekolah unggulan, seperti SD Wang Jie dan SMP Afiliasi CUMT. Kampus yang dikunjungi tidak hanya CUMt, tetapi ada Jiangsu Vocational Institute of Architecture Technology, Nanhu Campus, dan Mining Science Center. Perusahaan Robot IUIA yang dikunjungi bekerja sama dengan semua sekolah di Provinsi Jiangsu dalam membina ekstrakurikuler robotik. Sementara itu tempat wisata yang dieksplore di antaranya Forbidden City, Ziwey Academy,  Oldtown Park, Confusious Cultural Park, Danlong Lake, Yunlong Lake, Pagoda, dan The Great Wall.
Saya bangga karena disambut dengan upacara jamuan minum teh terbaik di China, layaknya menjamu Presiden Obama.
Siswa di China sangat mandiri, kompetitif, dan adaptif. Pendidikan karakter ditanamkan sejak kelas 1-3 SD dan hasilnya betul-betul dapat dilihat pada kehidupan sehari-hari, mulai dating ontime, antre naik bus, meletakkan barang, dan berbagai karakter baik lainnya. Kurikulum yang diimplementasikan di sana disesuaikan dengan minat, bakat, dan kondisi siswa. Banyak hal yang dapat dipelajari dan diterapkan di Indonesia. Jika China bisa, kenapa kita tidak? Satu pertanyaan yang bisa kita jawab jika kita ‘mau’ berubah menuju pendidikan yang berkualitas.
Saya sangat bangga bisa mewakili Kabupaten Malang. Meskipun saya guru pinggiran, saya bisa membuktikan bahwa guru pinggiran juga mampu berprestasi di tingkat nasional.
Tantangan pembelajaran abad 21 yang kini sedang didengung-dengungkan menjadi cambuk bagi perempuan satu ini untuk terus berprestasi. Keterampilan yang harus dikuasai siswa yaitu 4C (Critical Thinking, Creative, Communicative, Collaborative). Untuk menjawab tantangan tersebut, Nani menciptakan media pembelajaran “Komik Pelangi” yang dapat diunduh di google playstore. Ada beberapa prestasi yang sudah diraihnya, di antaranya juara II Inobel Tingkat Nasional Tahun 2018, Juara 1 Olimpiade Guru Nasional (OGN) tingkat provinsi, serta finalis OGN tingkat nasional tahun 2018. Pada peringatan Hardiknas 2 Mei lalu, dia mendapatkan penghargaan dari Bupati Malang di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang sebagai guru berprestasi tingkat nasional.
“Guru Mulia Karena Karya”, kalimat Anies Baswedan ini membuat saya tersadar bahwa guru harus mempunyai karya yang bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia. Guru Indonesia wajib menjadi agen perubahan.






  

















Minggu, 22 September 2019


Malang, 2 Juni 2019

Heboh Zonasi, Orang Tua Siswa Ingin Dirikan Sekolah Baru


Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd.
Operator dan Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Tumpang

Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa ini nampaknya cocok dengan kekecewaan orang tua terhadap sistem zonasi dalam seleksi PPDB tingkat SMP di Kabupaten Malang. Mereka protes ke dinas pendidikan dan ingin mendirikan sekolah baru di daerahnya karena tempat tinggal mereka masuk zona/ring 3 dengan SMP Negeri manapun dan kemungkinan diterima di sekolah negeri favorit kandas. Sistem zonasi pada pelaksanaan PPDB tingkat SMP di Kabupaten Malang dilaksanakan 20-22 Mei 2019 lalu.

Pelaksanaan PPDB SMP tahun 2019 sistem zonasi perlu dikaji ulang dengan mempertimbangkan nilai Ujian Nasional (UN) dan tes masuk SMP untuk zona 2 dan 3, serta untuk zona 1 tanpa nilai.  Sistem zonasi memang perlu dilakukan untuk menampung siswa SD yang berdomisili di desa tersebut dan memaksimalkan potensi wilayah setempat.
Sistem zonasi sendiri menimbulkan permasalahan di kalangan orang tua siswa. Mereka kecewa terhadap pelaksanaan PPDB yang lebih mengutamakan domisili di Kartu Keluarga (KK) dan jarak tempuh dari rumah ke sekolah tujuan. mereka merasa diperlakukan tidak adil karena tempat tinggal mereka masuk zona 3 dari SMP negeri manapun. Contohnya, mereka yang tinggal di daerah Mangliawan, Pakis, masuk zona 3 dari SMPN 1 Tumpang dan SMPN 1 Pakis. Padahal siswa SD yang mendaftar di SMPN 1 Tumpang yang merupakan sekolah unggulan di wilayah Kabupaten Malang sebelah timur cukup banyak.
Orang tua siswa yang tidak diterima karena alasan daerahnya masuk zona 3 protes ke dinas pendidikan dan ingin mendirikan sekolah baru. Mereka mengeluh karena mau masuk SMP negeri favorit di Kabupaten Malang tidak bisa, ke Kota Malang juga tidak bisa. Mereka ingin sistem PPDB tetap seperti tahun lalu. Zonasi tidak masalah, tetapi nilai juga harus diperhitungkan. Mereka merasa nilai anak mereka bagus dan layak masuk sekolah unggulan. Tapi apalah daya, jika hanya KK dan jarak yang menjadi landasan siswa diterima di sekolah tujuan.
Dampak sistem zonasi betul-betul dirasakan oleh orang tua yang berada di zona 3. Mau masuk sekolah favorit tidak bisa padahal siswa-siswa tersebut peringkat di SD masing-masing. Bahkan beberapa di antara mereka memang bercita-cita masuk sekolah unggulan, tetapi terkendala zonasi. Mereka sudah belajar mati-matian bahkan masuk bimbingan belajar ternama agar lolos masuk SMPN unggulan. Apalah daya tangan tak sampai.
Pelaksanaan PPDB di kabupaten Malang betul-betul dipersiapkan dengan matang. Di SMPN 1 Tumpang menyiapkan 4 operator PPDB, yaitu Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd., Nanang Wibowo, S.Pd., M. Ariantoko, S.Kom., dan Lutfiatur Rohmah, S.Kom. Empat hari sebelum pelaksanaan PPDB, keempat operator dilatih khusus untuk menghindari kesalahan menginput data dan mencocokkan GPS tempat tinggal calon pendaftar. PPDB ada 3 jalur yaitu zonasi, prestasi, dan perpindahan orang tua. Jalur zonasi dan perpindahan orang tua dilaksanakan pada 20-22 Mei 2019 dan prestasi pada 6-9 Mei 2019.
Khusus di SMPN 1 Tumpang disiapkan monitor bolak-balik agar data yang diinput operator juga bisa dilihat oleh calon pendaftar. Upaya tersebut untuk mengantisipasi kesalahan input data. Hal-hal lucu juga terjadi selama proses penginputan data. Ada orang tua dan anak berdebat menentukan letak rumahnya, ada yang tidak tahu itu rumahnya apa bukan, macam-macamlah. Ada banyak cara yang bisa dilalukan agar rumah mereka terindikasi dekat dengan sekolah karena masuk zona 3. Operator khan tidak tahu, apakah rumah yang ditunjuk itu betul-betul rumah mereka atau bukan. Ketika menampilkan GPS rumah mereka, operator berusaha sebisa mungkin tidak merugikan calon daftar karena jarak sangat diperhitungkan. Alamat rumah yang tertera di KK warga Kabupaten Malang, mungkin tidak sedetail Kota Malang. Rata-rata di KK hanya tertulis desa dan RT/RW, jarang sekali yang ada nama jalan. Anehnya, ketika operator mencoba memasukkan alamat calon pendaftar yang ada nama jalannya malah terbaca di daerah lain. Contoh ketika operator memasukkan Jalan Diponegoro, malah yang terbaca GPS bukan di wilayah Tumpang, melainkan Jalan Diponegoro Kota Surabaya. Intinya operator harus berhati-hati.
Waktu pendaftaran juga menentukan nomor antrean, sehingga ada calon pendaftar yang datang pukul 05.30 WIB supaya dapat nomor awal katanya. Hari pertama ada 410 formulir ludes. Alhasil operator harus kerja lembur memasukkan data mulai pukul 08.00 WIB dan diakhiri pukul 24.00 WIB. Itu saja data yang terinput baru 245 formulir, sisanya dilanjutkan hari kedua. Hari kedua ada tambahan 40 formulir yang masuk. Total 450 formulir keluar, padahal pagu SMPN 1 Tumpang 286 siswa. Lebih kurang 160 siswa harus rela tidak diterima. Pengumuman tanggal 24 Mei 2019 terjadi hujan tangis calon pendaftar yang tidak diterima di lapangan SMPN 1 Tumpang.
Pelaksanaan PPDB sistem zonasi memang perlu dikaji ulang supaya tidak merugikan orang tua siswa. Sistem zonasi terkesan bahwa anak sekadar sekolah. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang berkualitas tidak menjadi daya Tarik lagi. Padahal Kurikulum 2013 berlatar belakang pada keinginan memberi hadiah Indonesia Jaya pada seabad kemerdekaan tahun 2045.

#Artikel Zonasi ini telah diterbitkan di Jawa Post, Radar Malang tertanggal 2 Juni 2019
#Ayo Menulis












Minggu, 15 September 2019

Jurus Jitu Meraih Juara Inobel


Jurus Jitu Meraih Juara Inobel

Dag... Dig... Dug...
Kudengar detak jantung para finalis Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) Pendidikan Dasar Tahun 2019 tak henti-hentinya berdebar-debar dan hampir meledak sepertinya. Setelah hampir sebulan menunggu dengan rasa galau tingkat dewa, akhirnya artis Kesharlindung, Mas Dakroni, mengumumkan juga peserta yang lolos final Inobel 2019, baik guru SD maupun SMP. 
Saya ucapkan selamat kepada guru-guru hebat se-Indonesia yang lolos final Inobel 2019. 
       Flashback bentar ya... 
      Perasaan yang sama juga pernah saya rasakan setahun yang lalu. Hati dan pikiran tak tentu arah, terombang-ambing di samudera (hihihi.. hiperbola dikit, maklum guru bahasa).  Ternyata sudah setahun, pengalaman berharga itu kualami. Masih kuingat kala itu, juri memberondongiku dengan pertanyaan mahadasyat. Ini kali kedua, aku mengikuti lomba tingkat nasional, empat bulan sebelumnya lolos final Olimpiade Guru Nasional (OGN) di Lombok meski tidak meraih juara. Berbekal presentasi konyolku (mudah-mudahan pada lupa kisah kala itu hiiii), aku mulai berbenah untuk menghadapi final Inobel. Aku ingin menampilkan yang terbaik, tekatku. Syukur Alhamdulillah, aku bisa menjadi Pemenang II kategori IPSPB SMP Tahun 2018.
       Naahhhh.... berbekal pengalaman tersebut, aku mau membagi jurus jitu tembus juara Inobel yaaa..... Sejak Workshop Inobel diadakan, WA-ku tidak berhenti berdering, banyak yang minta tips juara Inobel... Padahal aku merasa kurang pantas, maklum khan masih juara 2, tetapi tak apalah, moga-moga tipsku ini bisa membuat teman-teman guru hebat se-Indonesia lebih semangat menghadapi final Inobel di Batu, Jawa Timur.... seminggu lagi...
         Jangan lupa mampir ke Malang ya.....!!!! Lumayan deket kok.... Kita bisa meet up bareng Inobelers 2018. He heheee...
         Untunglah, coretan feedback dewan juri IPSPB masih kusimpan sampai sekarang... Ada 5 lembar lhooo..., tapi ojo kawater wes tak rangkum kok (jangan kawatir udah aku rangkum). Ada yang ngomong kalau juri-juri IPSPB itu dasyat, superduper, dan hebat. Betul binggiiitttss... Mauuuuuttt lhoo.... sekali salah jawab.... ehhhmmm bakal dikejar sampai ke ujung dunia... bahkan ada yang diajak tepuk pramuka sampai 2 hari 2 malam atau suruh menggoyang-goyangkan media, berguguranlah harapan. Uppsss... heeehee... jangan takut duluan, Beliau-beliau tidak hanya sekadar menyalahkan, tapi juga akan memberi solusi. 
         Pada takut yaaa?????
         Guru-guru hebat yang sudah lolos final Inobel pasti mentalnya sudah setebal baja... Oke deh, simak jurus "PELANGI" tembus juara Inobel...
1. Fokus fokus trulala... 
Mirip jampi-jampi Masya di film "Masya and The Bear". Heeee...
Teman-teman sebaiknya memfokuskan penelitian pada satu hal saja, jangan mendua apalagi meniga... beraaattt...
misal fokus pada media saja atau strategi saja atau model saja atau pendekatan saja. Usahakan jangan dobel-dobel. Bingung nanti...
Kuasai betul-betul konten karya inobel kita. Teori harus mantap, ben pas ditakoni juri ora gelagapan (biar pas ditanya juri tidak grogi).
INgat yaa... Inobel ini lomba tingkat nasional, jangan sampai kita membuat media "Murahan" atau asal jadi. Media harus bisa digunakan berulang-ulang, itu pesan juri. Jangan lupa ngedit naskah sebelum dikirim, ejaan dan tanda baca  yang salah bisa jadi bumerang lhooo...
Pastikan penelitian kita menarik dan bermanfaat!
2. Expecto Patronum
Mantra khas Harry Potter ini digunakan untuk menghadapi Dementor yang tak mudah dikalahkan. 
Sama halnya dengan inobel, buatlah juri-juri itu terkesan dengan inovasi yang telah dibuat. Pastikan kita tahu positioning penelitian kita dibanding penelitian lain yang sejenis. Inovasi yang dibuat harus jelas. Juri itu tahu persis lho... Apakah inovasi yang kita buat itu berdasarkan problematika yang dihadapi atau inovasi itu dibuat sebelum adanya masalah, kayak dibuat-buat gitu....
Sebagai pembuktian, tentunya data-data penelitian/angket/instrumen penskoran/karya siswa/analisis data harus disiapkan. Ketika juri minta, tinggal tunjukkan saja. 
Ingat ya.. Inovasi yang diciptakan harus mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
3. Semar Mesem
Ajian Jawa satu ini jangan sampai ketinggalan yaa... eeittsss jangan berpikir aneh-aneh dulu...
Jurus ini hendaknya dipakai ketika kita presentasi. Mesem (senyum) itu penting, tapi jangan senyum-senyum sendiri... nanti dikira gila...
Ketika presentasi, sebaiknya murah senyum apapun keadaannya. Mau kita dibantai atau disanjung, tetaplah tersenyum. Perhatikan "Unggah-Ungguh" terhadap juri. Juri itu juga menilai ketika peserta berdiri, berbicara, berbusana, bahkan diam dan memegang mic juga dinilai. 
Jangan sampai salah diksi... gunakan diksi ilmiah.... Masih ingat dulu ada yang selalu mengucapkan "rangsangan" heeee... juri langsung nyengir... gunakanlah diksi "Stimulus", dll.
Ingat yaa... Sopan santun itu wajib. Boleh ngeyel asal santun... Dengarkan masukan juri, jangan terbawa emosi yaaa.... Heheee... kontrol emosi... Suasana final itu melebihi sidang tesis, menurutku...
4. Jaka Sembung numpak becak
Pahami betul-betul pertanyaan juri, jangan sampai pertanyaannya tentang A, malah jawabannya B. Pastikan juga judul dan simpulan sinkron alias nyambung, alat ukur jelas, tdak membuat akronim "aneh-aneh" dan negatif. Banyak peserta yang menggunakan akronim yang dipaksakan.... contoh... Media Kolang.. (Komik Pelangi)... heheee... hindari yaa....
5. Doa tembus langit ketujuh
Ketika ikhtiyar sudah dilakukan, tinggallah memohon pada Allah SWT. Kepada-Nyalah Kita memohon yang terbaik.

Display pameran bisa cek dan ricek di akun fb dan ig-ku ya....

Naskah Inobel Nani Nurcahyani klik di sini.

INGAATTTT... JUARA ITU BONUS, ilmu, pengalaman,  dan persaudaraan yang kita dapatkan selama perlombaan itu yang utama.

Quote: "Orang yang sukses, bukanlah orang yang tidak pernah gagal, tetapi orang yang mampu bangkit dari kegagalan untuk meraih kesuksesan yang tertunda"

Semoga apa yang saya bagi ini bermanfaat. Selamat berlomba....
Semoga juara......
Semangat yaa...
Salam Komik Pelangi

#Nani Nurcahyani
#SMPN 1 Tumpang
#Kabupaten Malang
#fb : Nani Bilqish
#ig : @pelangi1717