Sabtu, 10 Oktober 2020

Catatan Mbak Nani di China #1

 Telepon yang Ditunggu

                                                  Bersama Mbak Vicka GTK yang cantik

       Sore itu seperti biasanya kulaju motor Satria kesayanganku dengan santai menuju rumah. Jarak rumah ke sekolah kurang lebih 42 km. Meski kadang lelah menghinggapi, aku tetap bahagia menjalankan tugasku mencerdaskan anak bangsa dengan menempuh berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Hampir 12 tahun aku mengemban tugas di SMP Negeri 1 Tumpang, Kabupaten Malang. Banyak yang tanya kenapa tidak mencari sekolah yang dekat dengan rumah saja, bukannya jarak dekat lebih efektif, apalagi kalau sekolahnya hanya 5 langkah dari rumah (jadi kayak lagu dangdut). Bagiku jarak itu bukan alasan untuk malkerja. Apakah Anda bisa menjamin jika jarak tempat kerja dekat rumah, kerja menjadi maksimal? Maaf, bukan bermaksud menyindir ya... Terkadang capek, malas, suasana hati, atau hal lain memberondongi tubuhku, apalagi jika musim hujan sudah tiba. Uhhh... tiap hari memakai mantel, tapi anggap saja sedang melakukan spa untuk menguruskan badan. Anda tak perlu membayangkan perjalan hidup saya terlalu ekstrem. Aku merasakan banyak pengalaman dan makna hidup yang telah kupelajari. Belajar dewasa menyikapi hidup, tak perlu mengeluh dengan apa yang terjadi, tetaplah bersyukur dengan apa yang kita terima.

       Sejam lebih 15 menit tak terasa telah kulalui. Kini aku sampai di rumah. Oh, ya banyak yang bertanya juga kenapa aku memilih motor Satria daripada matic. Jalan yang kulalui termasuk zona merah, sering ada begal. Selain itu, kondisi jalan yang naik turun, aspal yang tidak semulus pipi, bahkan ketika melewati jurang Pletes harus ekstra hati-hati supaya tidak tergelincir. Lagian aku bukanlah perempuan yang girly, aku tipe orang yang sportif. Jadi Satria lebih cocok dengan gayaku.

        Sesampai di rumah, kuhempaskan tubuhku ke sofa. aku teringat di perjalanan tadi, gawaiku terus saja bergetar, tapi kuabaikan. Toh, kalau penting nanti pasti akan telepon balik, pikirku. Kucari gawaiku di saku jaket, kucek ternyata nomor telepon 021.....  Wah, nomor Jakarta ternyata yang menelepon. Kutelepon balik ternyata tidak tersambung. Siapa tahu itu nomor kementerian yang ingin mengabarkan aku lolos diklat ke luar negeri. Maklumlah, hampir sebulan media sosial dibanjiri berita pengiriman guru ke luar negeri. Aku hopeless karena nama-nama guru yang lolos sudah beredar dan tidak ada namaku di sana. Aku cuma bisa senang melihat teman-temanku membuat status di WA, ig, fb, dan lain-lain bahwa mereka terpilih untuk mengikuti diklat di luar negeri 2 minggu mendatang. Mungkin belum rezeki, pikirku. Aku WA beberapa teman yang lolos untuk mengucapkan selamat dan semoga sekembalinya nanti mereka mau berbagi ilmu dan pengalamannya. Mereka sepertinya kikuk menjawab chatinganku. Mungkin mereka takut aku kecewa. Akupun sempat chatungan dengan Pakdhe Sutopo, jawara Inobel asal Demak, curhat kenapa kami tidak terpilih. Sepengetahuanku, yang dikirim diklat adalah guru-guru berprestasi yang pernah menjadi juara di ajang perlombaan nasional yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan. Sempat ada tanda tanya besar, aku kan juara, kok gak kepilih ya.... Lagi-lagi semuanya bergantung rezeki. Aku masih ingat obrolan santaiku bersama Mas Sutriono "Yoyok" Hariadi, jawara Inobel dari Probolinggo; Mas Eko Sudinuriyanto, Owner Sudi Media; dan dua finalis Inobel tahun 2019. Kala itu di peron Stasiun Kota Baru Malang kami ngobrol santai, tapi berbobot... seputar inovasi pembelajaran, inilah, itulah.... Tiba-tiba, Mas Yoyok ngendikan (berbicara), "Mas Eko kurang opo coba, kompetensi duwe, strategi duwe, inovasi yo muantep,.... sing kurang kui REZEKI." Kami pun terus ngobrol sambil becanda sembari menunggu kereta api datang. Semuanya kembali ke REZEKI, yang terpenting usaha kita maksimal, tentunya hasil tidak akan mengkhiati usaha.

       Magrib sepuluh menit lagi, gawaiku tiba-tiba bergetar. Pakdhe Sutopo memanggil. Kujawab dengan santai, "Wonten nopo, Bopo?" Beliau bercerita kalau terpilih untuk Diklat ke China. Katanya, namaku dan Abdul Hakim ada juga. Kami bertiga sama-sam guru bahasa Indonesia yang sering berlaga di ajang lomba yang diadakan Kesharlindungdikdas. Kadang jadi teman, kadang jadi lawan. Aku disuruh menunggu telepon dari Mbak Vicka katanya. Aku konfirmasi ke Abdul Hakim, guru Pupuk Kaltim, Bontang. Beliau mengiyakan berita tersebut. Ada rasa was-was menunggu telepon Mbak Vicka. Apakah aku betul-betul terpilih. Jam 5 sore menjelang mgrib gawaiku bergetar lagi, kulihat nomor tidak dikenal telepon melalui WA. Mungkinkan ini Mbak Vicka yang telepon. Gambling aja. Kuterima telepon itu dan ternyata benar. Mbak Vicka yang menelepon. Beliau menggabarkan bahwa aku terpilih menjadi peserta diklat ke China. Kaget bukan kepalang.... Ternyata ini bukan mimpi. Syukur, alhamdulillah. Kemudian aku sujud syukur. Lantas aku memberitahu keluargaku. Besoknya aku mengurus berkas-berkas yang diperlukan.

      Aku mendapatkan waktu seminggu menyelesaikan berkas-berkas. Aku harus meminta izin kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Awalnya pihak sekolah keberatan karena aku adalah guru yang mengajar mapel Unas. Apalagi, sebulan lagi, UNBK. tentunya bimbingan belajar lebih intensif lagi. aku berusaha meyakinkan pihak sekolah dan akhirnya diizinkan. Esoknya aku ke kantor dinas pendidikan dan kantor imigrasi. Seminggu aku berkeliling Malang Raya. Berangkat dari Sumawe menuju Tumpang, lalu ke Kepanjen, terus ke Arjosari, balik lagi Kepanjen, Tumpang, Sumawe. Tiap hari kuintip spidoku motorku hampir 200km. Ibarat Malang-Surabaya. Tak apalah, demi China. Seminggu kemudian semua bekasku selesai lalu kukirimkan ke Kementerian Pendidikan. 

      Itulah suka dukanya, berangkat menuju China.... Ada air mata bahagia, kecewa, bangga, bercampur jadi satu....


Nantikan kisah selanjutnya...


Kamis, 30 April 2020

Adiwiyata Mandiri


SMPN 1 Tumpang Sukses Raih Adiwiyata Mandiri
Oleh: Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Adiwiyata)


Rubiantono, ketua Adiwiyata, bersama Kepala SMPN 1 Wajak (kiri) dan Kabid SMP (tengah)

Akhir Desember 2019 SMPN 1 Tumpang meraih prestasi gemilang dalam bidang adiwiyata. Gelar “Adiwiyata Mandiri” diraih setelah sempat gagal di 2018 kemudian bangkit kembali untuk meraihnya. Raihan ini berkat kerja keras seluruh warga sekolah dan semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan ini, baik kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, komite, orang tua, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan kegiatan ini. Ucapan terima kasih tak lupa ditujukan untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Puskesmas Tumpang, Pemerintah Kecamatan Tumpang dan Desa Malangsuko, serta pihak-pihak terkait yang tidak dapat disebut satu per satu.
Pemberian penghargaan tertinggi “Adiwiyata Mandiri” diberikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, 13 Desember 2019. SMP Negeri 1 Tumpang berhasil meraih predikat sekolah adiwiyata mandiri 2019 bersama 2 sekolah lain (SMPN 1 Wajak dan SMPN 2 Kepanjen).
Adiwiyata merupakan program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Harapannya tiap warga sekolah ikut terlibat dalam upaya melestarikan, menjaga, dan mencegah kerusakan lingkungan. Berbagai upaya SMPN 1 Tumpang dilakukan untuk mewujudkan pembelajaran. pembiasaan peduli, dan berbudaya lingkungan, di antaranya menciptakan visi sekolah yaitu “Berimtaq, Berprestasi, Berbudaya Lingkungan, dan Berwawasan Global”. Tak mudah mewujudkan hal itu. Banyak tantangan intern maupun ekstern yang harus dihadapi.
Perjalanan SMP Negeri 1 Tumpang tidaklah mudah untuk meraih predikat tertinggi tersebut di bidang lingkungan. Perjalanan ini dimulai sejak tahun 2012 dengan meraih predikat sekolah adiwiyata kabupaten harus melengkapi berbagai persyaratan lomba, khususnya di bidang admisnitrasi yang tentu saja mencakup kurikulum yang bermuatan lingkungan. Persyaratan lolos adiwiyata mandiri cukup sulit, mulai mengumpulkan macroexcel adiwiyata dengan berbagai data dan bukti pendukung serta visitasi dari Tim Penilai Jakarta.
SMP  Negeri 1 Tumpang memunyai moto Be Clean, Be Green, Be Smart, dan  Be  Higienis.  Pelestarian  lingkungan  dapat  dilakukan  dari  hal  kecil,  seperti membuang sampah sesuai jenisnya di tempat sampah. SMP Negeri 1 Tumpang memunyai    gerakan    peduli    lingkungan    yang    disebut    Gerakan    6M    peduli lingkungan   di   SMP   Negeri   1   Tumpang   yaitu   (1)   mendaur   ulang   sampah anorganik;  (2)  mengaktifkan  gerakan  jumat  bersih;  (3)  mematikan  listrik  setelah selesai  digunakan;  (4)  memanfaatkan  air  secukupnya;  (5)  mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, (6) melakukan  reboisasi.
Upaya yang telah dilakukan di SMP Negeri 1 Tumpang dalam menyukseskan adiwiyata mandiri, yaitu mendaur ulang sampah anorganik. Sampah-sampah anorganik yang masih dapat dimanfaatkan dipilih dan dipilah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Kader lingkungan kelompok kerja "Daur Ulang" mengolah sampah anorganik tersebut menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Sampah anorganik disulap menjadi baju daur ulang, tas, dompet, sandal, dan tempat tisu yang cantik. Hari Bumi tahun 2019 diperingati dengan mengadakan lomba kreasi dan fashion show baju daur ulang per kelas.
Upaya lain yaitu menjaga konsistensi dan komitmen tersebut tidaklah mudah. Diperlukan karakter yang kuat untuk menjadi warga sekolah yang ramah terhadap lingkungan. Berbagai kegiatan juga dilakukan baik bagi warga sekolah sendiri maupun bekerja sama dengan pihak Komite Sekolah atau instansi-instansi di luar sekolah, misal dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Puskesmas Tumpang, Muspika, PT Sosro Indonesia, CV Tirta Kanjuruhan, dan lain-lain. Selain itu, gerakan jumat bersih digalakkan sebelum jam pertama dimulai. Jumat pagi diawali dengan membaca surat yasin dan asmaul husna bersama-sama, kemudian membersihkan kelas dan taman masing-masing kelas. memilih dan memilah sampai menjadi agenda rutin tiap jumat.











Selasa, 28 April 2020

SMPN 1 TUMPANG JUARA OPSI 2019


SRHD Antarkan SMPN 1 Tumpang Raih Perunggu
Oleh: Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd. (Guru Bahasa Indonesia dan Pembimbing OPSI)

Iswardanny, dkk torehkan prestasi di tingkat nasional

Torehan prestasi di tingkat nasional diraih Iswardanny, dkk pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) November 2019 lalu. Medali perunggu diraih Tim OPSI SMPN 1 Tumpang yang terdiri atas Iswardanny Rezafarabi (Ketua), Labib Rof’ul Hikam, dan Lutfiatul Adinda Putri pada kategori IPA dan lingkungan. Mereka masih duduk di kelas VIII. Pembimbingan secara intensif dilakukan oleh Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd., Umi Chapsah, S.Pd., M.M.Pd., dan Raka Iqbal R. sebelum berangkat ke Jakarta, mulai teknik penulisan, praktik alat pendeteksi, pembuatan produk, dan latihan presentasi.
Penelitian mereka berjudul “Solar Radiation Heat Detector untuk Menanggulangi Bencana Kebakaran Hutan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Solar Radiation Heat Detector berhasil membuat alat pendeteksi kebakaran ini. Keunggulan dari Solar Radiation Heat Detector ini adalah mudah dibuat, harganya murah, praktis, dan bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah. SMPN 1 Tumpang sebagai sekolah adiwiyata wajib memberikan sumbangsihnya untuk negara dalam upaya perlindungan, pelestarian, dan pencegahan lingkungan dengan membuat inovasi alat penanggulangan kebakaran hutan. Selain itu, bencana kebakaran hutan yang melanda Indonesia merupakan permasalahan yang sangat serius untuk segera dituntaskan di Indonesia. Hutan Indonesia yang begitu luas mudah terbakar menjadi prioritas yang harus segera dicari jalan keluarnya.
Jumat, 29 November 2019 dilaksanakan upacara penutupan dengan meriah dan penuh khidmat. Penutupan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tahun 2019 yang ditutup secara resmi oleh Dra. Poppy Dewi Puspitawati, MA., Direktur Direktorat Pembinaan SMP, di El Royale Hotel, Kelapa gading pukul 21.00 WIB.
Inspirasi untuk jutaan siswa SMP yang berada di seluruh Indonesia disebar dalam OPSI tahun ini. Berdasarkan hasil penilaian sebanyak 875 naskah terlah terpilih sebanyak 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan, 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan dan Seni, 34 finalis bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa. Ada 102 finalis yang hadir dan dapat mengimbaskan, memotivasi, dan menginspirasi siswa Indoesia untuk meneliti. Harapan ke depannya siswa mampu menyongsong Indonesia emas dan mempertahankannya. Melalui kegitan ini, siswa dapat mengembangkan penelitiannya serta meneliti berbagai hal dan akan bermanfaat serta berguna bagi pendidikan, pengetahuan, sosial dan lingkungan di Indonesia.
Tema “Generasi Peneliti Menuju Indonesia Emas” dipilih untuk memotivasi siswa-siswa SMP lainnya untuk gemar meneliti. Kategori yang dilombakan pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) SMP 2019 yaitu bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan, Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan dan Seni dan Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa. Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) adalah suatu kegiatan penelitian siswa yang diarahkan pada pengembangan IPTEK dan ditulis dalam sebuah makalah ilmiah sebagai bahan penilaian dalam kompetisi ilmiah. OPSI diharapkan mampu meningkatkan kemampuan Empat K (berpikir Kritis, Kreatifitas, Kolaborasi, dan Komunikasi) dengan memanfaatkan sumber daya sekitar demi memberi nilai tambah masyarakat. OPSI merupakan ajang penyaluran bakat meneliti bagi siswa SMP bermutu, berkarakter, dan berintegritas menuju Indonesia emas 2045.







Senin, 23 September 2019


Guru Pinggiran Kabupaten Malang Belajar STEAM dan HOTS di China


Nani Nurcahyani (pertama dari kiri) bersama Kepala Dirjen GTK, Dr. Praptono, M.Pd. (tengah)

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Pepatah ini benar-benar dialami Nani Nurcahyani, guru SMP Negeri 1 Tumpang, Kabupaten Malang. Bagai mendapat durian jatuh, perempuan 35 tahun ini terpilih menjadi peserta Pelatihan Guru ke Luar Negeri di Republik Rakyat China yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd. adalah guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Tumpang. Perempuan ini mendapat kesempatan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Guru ke Luar Negeri di Republik Rakyat China yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Peserta diklat berjumlah 50 guru berprestasi yang berasal dari seluruh Indonesia dan 2 staf GTK. Nani sendiri terpilih setelah menjadi Juara II Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) Tingkat Nasional Tahun 2018. Diklat ini dilaksanakan pada 3-24 Maret 2019 berpusat di China University of Mining and Technology (CUMT) yang berada di Kota Xuzhou Provinsi Jiangsu.
Materi yang didapatkan di diklat tersebut adalah STEM (Science Technology Enginering Mathematic) dan HOTS (High Order Thinking Skills). Jika di Indonesia sedang ‘booming’ tentang STEM, China sudah lama mengaplikasikannya, bahkan menambah satu unsur lagi yaitu “A” menjadi STEAM (Science Technology Enginering Art Mathematic). Unsur ‘Art’ juga diprioritaskan dalam pembelajaran di China. Bagaimana mereka mengajar tidak hanya dengan berbagai kecanggihan IT, tetapi juga dengan seni, baik seni mengajar, berkarya, membuat produk, dan lain sebagainya.  Tak hanya itu, Pemerintah China juga memberikan gambaran kemajuan pendidikan di China, baik kurikulum maupun inovasi di sana.
Pendidikan STEAM di China mencakup mata pelajaran, seni, robotik, edukasi kreatif, dan pendidikan karakter. Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat di China memudahkan pemerintah China untuk mengaplikasikan pembelajaran berbasis STEAM. Pembelajaran STEAM tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan pada ranah sains, teknologi, engineering, dan matematika saja, tetapi juga pada pemanfaatan ilmu tersebut sebagai basis pembelajaran dan pengembangan potensi siswa sehingga hardskill dan softkillnya  seimbang. Selain STEAM, penerapan HOTS  tidak hanya sekadar berpikir, tetapi juga belajar tentang proses berpikir tingkat tinggi dan kreatif.
Saya tidak hanya mendapatkan STEAM dan HOTS saja, ada hal yang begitu menonjol dari pendidikan di China yaitu pendidikan karakter. 
Selain kegiatan di kampus CUMT, peserta diklat juga diajak visitasi ke sekolah, kampus, perusahan robotik, dan pusat kebudayaan di China. Sekolah yang dikunjungi merupakan sekolah unggulan, seperti SD Wang Jie dan SMP Afiliasi CUMT. Kampus yang dikunjungi tidak hanya CUMt, tetapi ada Jiangsu Vocational Institute of Architecture Technology, Nanhu Campus, dan Mining Science Center. Perusahaan Robot IUIA yang dikunjungi bekerja sama dengan semua sekolah di Provinsi Jiangsu dalam membina ekstrakurikuler robotik. Sementara itu tempat wisata yang dieksplore di antaranya Forbidden City, Ziwey Academy,  Oldtown Park, Confusious Cultural Park, Danlong Lake, Yunlong Lake, Pagoda, dan The Great Wall.
Saya bangga karena disambut dengan upacara jamuan minum teh terbaik di China, layaknya menjamu Presiden Obama.
Siswa di China sangat mandiri, kompetitif, dan adaptif. Pendidikan karakter ditanamkan sejak kelas 1-3 SD dan hasilnya betul-betul dapat dilihat pada kehidupan sehari-hari, mulai dating ontime, antre naik bus, meletakkan barang, dan berbagai karakter baik lainnya. Kurikulum yang diimplementasikan di sana disesuaikan dengan minat, bakat, dan kondisi siswa. Banyak hal yang dapat dipelajari dan diterapkan di Indonesia. Jika China bisa, kenapa kita tidak? Satu pertanyaan yang bisa kita jawab jika kita ‘mau’ berubah menuju pendidikan yang berkualitas.
Saya sangat bangga bisa mewakili Kabupaten Malang. Meskipun saya guru pinggiran, saya bisa membuktikan bahwa guru pinggiran juga mampu berprestasi di tingkat nasional.
Tantangan pembelajaran abad 21 yang kini sedang didengung-dengungkan menjadi cambuk bagi perempuan satu ini untuk terus berprestasi. Keterampilan yang harus dikuasai siswa yaitu 4C (Critical Thinking, Creative, Communicative, Collaborative). Untuk menjawab tantangan tersebut, Nani menciptakan media pembelajaran “Komik Pelangi” yang dapat diunduh di google playstore. Ada beberapa prestasi yang sudah diraihnya, di antaranya juara II Inobel Tingkat Nasional Tahun 2018, Juara 1 Olimpiade Guru Nasional (OGN) tingkat provinsi, serta finalis OGN tingkat nasional tahun 2018. Pada peringatan Hardiknas 2 Mei lalu, dia mendapatkan penghargaan dari Bupati Malang di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang sebagai guru berprestasi tingkat nasional.
“Guru Mulia Karena Karya”, kalimat Anies Baswedan ini membuat saya tersadar bahwa guru harus mempunyai karya yang bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia. Guru Indonesia wajib menjadi agen perubahan.






  

















Minggu, 22 September 2019


Malang, 2 Juni 2019

Heboh Zonasi, Orang Tua Siswa Ingin Dirikan Sekolah Baru


Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd.
Operator dan Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Tumpang

Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa ini nampaknya cocok dengan kekecewaan orang tua terhadap sistem zonasi dalam seleksi PPDB tingkat SMP di Kabupaten Malang. Mereka protes ke dinas pendidikan dan ingin mendirikan sekolah baru di daerahnya karena tempat tinggal mereka masuk zona/ring 3 dengan SMP Negeri manapun dan kemungkinan diterima di sekolah negeri favorit kandas. Sistem zonasi pada pelaksanaan PPDB tingkat SMP di Kabupaten Malang dilaksanakan 20-22 Mei 2019 lalu.

Pelaksanaan PPDB SMP tahun 2019 sistem zonasi perlu dikaji ulang dengan mempertimbangkan nilai Ujian Nasional (UN) dan tes masuk SMP untuk zona 2 dan 3, serta untuk zona 1 tanpa nilai.  Sistem zonasi memang perlu dilakukan untuk menampung siswa SD yang berdomisili di desa tersebut dan memaksimalkan potensi wilayah setempat.
Sistem zonasi sendiri menimbulkan permasalahan di kalangan orang tua siswa. Mereka kecewa terhadap pelaksanaan PPDB yang lebih mengutamakan domisili di Kartu Keluarga (KK) dan jarak tempuh dari rumah ke sekolah tujuan. mereka merasa diperlakukan tidak adil karena tempat tinggal mereka masuk zona 3 dari SMP negeri manapun. Contohnya, mereka yang tinggal di daerah Mangliawan, Pakis, masuk zona 3 dari SMPN 1 Tumpang dan SMPN 1 Pakis. Padahal siswa SD yang mendaftar di SMPN 1 Tumpang yang merupakan sekolah unggulan di wilayah Kabupaten Malang sebelah timur cukup banyak.
Orang tua siswa yang tidak diterima karena alasan daerahnya masuk zona 3 protes ke dinas pendidikan dan ingin mendirikan sekolah baru. Mereka mengeluh karena mau masuk SMP negeri favorit di Kabupaten Malang tidak bisa, ke Kota Malang juga tidak bisa. Mereka ingin sistem PPDB tetap seperti tahun lalu. Zonasi tidak masalah, tetapi nilai juga harus diperhitungkan. Mereka merasa nilai anak mereka bagus dan layak masuk sekolah unggulan. Tapi apalah daya, jika hanya KK dan jarak yang menjadi landasan siswa diterima di sekolah tujuan.
Dampak sistem zonasi betul-betul dirasakan oleh orang tua yang berada di zona 3. Mau masuk sekolah favorit tidak bisa padahal siswa-siswa tersebut peringkat di SD masing-masing. Bahkan beberapa di antara mereka memang bercita-cita masuk sekolah unggulan, tetapi terkendala zonasi. Mereka sudah belajar mati-matian bahkan masuk bimbingan belajar ternama agar lolos masuk SMPN unggulan. Apalah daya tangan tak sampai.
Pelaksanaan PPDB di kabupaten Malang betul-betul dipersiapkan dengan matang. Di SMPN 1 Tumpang menyiapkan 4 operator PPDB, yaitu Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd., Nanang Wibowo, S.Pd., M. Ariantoko, S.Kom., dan Lutfiatur Rohmah, S.Kom. Empat hari sebelum pelaksanaan PPDB, keempat operator dilatih khusus untuk menghindari kesalahan menginput data dan mencocokkan GPS tempat tinggal calon pendaftar. PPDB ada 3 jalur yaitu zonasi, prestasi, dan perpindahan orang tua. Jalur zonasi dan perpindahan orang tua dilaksanakan pada 20-22 Mei 2019 dan prestasi pada 6-9 Mei 2019.
Khusus di SMPN 1 Tumpang disiapkan monitor bolak-balik agar data yang diinput operator juga bisa dilihat oleh calon pendaftar. Upaya tersebut untuk mengantisipasi kesalahan input data. Hal-hal lucu juga terjadi selama proses penginputan data. Ada orang tua dan anak berdebat menentukan letak rumahnya, ada yang tidak tahu itu rumahnya apa bukan, macam-macamlah. Ada banyak cara yang bisa dilalukan agar rumah mereka terindikasi dekat dengan sekolah karena masuk zona 3. Operator khan tidak tahu, apakah rumah yang ditunjuk itu betul-betul rumah mereka atau bukan. Ketika menampilkan GPS rumah mereka, operator berusaha sebisa mungkin tidak merugikan calon daftar karena jarak sangat diperhitungkan. Alamat rumah yang tertera di KK warga Kabupaten Malang, mungkin tidak sedetail Kota Malang. Rata-rata di KK hanya tertulis desa dan RT/RW, jarang sekali yang ada nama jalan. Anehnya, ketika operator mencoba memasukkan alamat calon pendaftar yang ada nama jalannya malah terbaca di daerah lain. Contoh ketika operator memasukkan Jalan Diponegoro, malah yang terbaca GPS bukan di wilayah Tumpang, melainkan Jalan Diponegoro Kota Surabaya. Intinya operator harus berhati-hati.
Waktu pendaftaran juga menentukan nomor antrean, sehingga ada calon pendaftar yang datang pukul 05.30 WIB supaya dapat nomor awal katanya. Hari pertama ada 410 formulir ludes. Alhasil operator harus kerja lembur memasukkan data mulai pukul 08.00 WIB dan diakhiri pukul 24.00 WIB. Itu saja data yang terinput baru 245 formulir, sisanya dilanjutkan hari kedua. Hari kedua ada tambahan 40 formulir yang masuk. Total 450 formulir keluar, padahal pagu SMPN 1 Tumpang 286 siswa. Lebih kurang 160 siswa harus rela tidak diterima. Pengumuman tanggal 24 Mei 2019 terjadi hujan tangis calon pendaftar yang tidak diterima di lapangan SMPN 1 Tumpang.
Pelaksanaan PPDB sistem zonasi memang perlu dikaji ulang supaya tidak merugikan orang tua siswa. Sistem zonasi terkesan bahwa anak sekadar sekolah. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang berkualitas tidak menjadi daya Tarik lagi. Padahal Kurikulum 2013 berlatar belakang pada keinginan memberi hadiah Indonesia Jaya pada seabad kemerdekaan tahun 2045.

#Artikel Zonasi ini telah diterbitkan di Jawa Post, Radar Malang tertanggal 2 Juni 2019
#Ayo Menulis












Minggu, 15 September 2019

Jurus Jitu Meraih Juara Inobel


Jurus Jitu Meraih Juara Inobel

Dag... Dig... Dug...
Kudengar detak jantung para finalis Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) Pendidikan Dasar Tahun 2019 tak henti-hentinya berdebar-debar dan hampir meledak sepertinya. Setelah hampir sebulan menunggu dengan rasa galau tingkat dewa, akhirnya artis Kesharlindung, Mas Dakroni, mengumumkan juga peserta yang lolos final Inobel 2019, baik guru SD maupun SMP. 
Saya ucapkan selamat kepada guru-guru hebat se-Indonesia yang lolos final Inobel 2019. 
       Flashback bentar ya... 
      Perasaan yang sama juga pernah saya rasakan setahun yang lalu. Hati dan pikiran tak tentu arah, terombang-ambing di samudera (hihihi.. hiperbola dikit, maklum guru bahasa).  Ternyata sudah setahun, pengalaman berharga itu kualami. Masih kuingat kala itu, juri memberondongiku dengan pertanyaan mahadasyat. Ini kali kedua, aku mengikuti lomba tingkat nasional, empat bulan sebelumnya lolos final Olimpiade Guru Nasional (OGN) di Lombok meski tidak meraih juara. Berbekal presentasi konyolku (mudah-mudahan pada lupa kisah kala itu hiiii), aku mulai berbenah untuk menghadapi final Inobel. Aku ingin menampilkan yang terbaik, tekatku. Syukur Alhamdulillah, aku bisa menjadi Pemenang II kategori IPSPB SMP Tahun 2018.
       Naahhhh.... berbekal pengalaman tersebut, aku mau membagi jurus jitu tembus juara Inobel yaaa..... Sejak Workshop Inobel diadakan, WA-ku tidak berhenti berdering, banyak yang minta tips juara Inobel... Padahal aku merasa kurang pantas, maklum khan masih juara 2, tetapi tak apalah, moga-moga tipsku ini bisa membuat teman-teman guru hebat se-Indonesia lebih semangat menghadapi final Inobel di Batu, Jawa Timur.... seminggu lagi...
         Jangan lupa mampir ke Malang ya.....!!!! Lumayan deket kok.... Kita bisa meet up bareng Inobelers 2018. He heheee...
         Untunglah, coretan feedback dewan juri IPSPB masih kusimpan sampai sekarang... Ada 5 lembar lhooo..., tapi ojo kawater wes tak rangkum kok (jangan kawatir udah aku rangkum). Ada yang ngomong kalau juri-juri IPSPB itu dasyat, superduper, dan hebat. Betul binggiiitttss... Mauuuuuttt lhoo.... sekali salah jawab.... ehhhmmm bakal dikejar sampai ke ujung dunia... bahkan ada yang diajak tepuk pramuka sampai 2 hari 2 malam atau suruh menggoyang-goyangkan media, berguguranlah harapan. Uppsss... heeehee... jangan takut duluan, Beliau-beliau tidak hanya sekadar menyalahkan, tapi juga akan memberi solusi. 
         Pada takut yaaa?????
         Guru-guru hebat yang sudah lolos final Inobel pasti mentalnya sudah setebal baja... Oke deh, simak jurus "PELANGI" tembus juara Inobel...
1. Fokus fokus trulala... 
Mirip jampi-jampi Masya di film "Masya and The Bear". Heeee...
Teman-teman sebaiknya memfokuskan penelitian pada satu hal saja, jangan mendua apalagi meniga... beraaattt...
misal fokus pada media saja atau strategi saja atau model saja atau pendekatan saja. Usahakan jangan dobel-dobel. Bingung nanti...
Kuasai betul-betul konten karya inobel kita. Teori harus mantap, ben pas ditakoni juri ora gelagapan (biar pas ditanya juri tidak grogi).
INgat yaa... Inobel ini lomba tingkat nasional, jangan sampai kita membuat media "Murahan" atau asal jadi. Media harus bisa digunakan berulang-ulang, itu pesan juri. Jangan lupa ngedit naskah sebelum dikirim, ejaan dan tanda baca  yang salah bisa jadi bumerang lhooo...
Pastikan penelitian kita menarik dan bermanfaat!
2. Expecto Patronum
Mantra khas Harry Potter ini digunakan untuk menghadapi Dementor yang tak mudah dikalahkan. 
Sama halnya dengan inobel, buatlah juri-juri itu terkesan dengan inovasi yang telah dibuat. Pastikan kita tahu positioning penelitian kita dibanding penelitian lain yang sejenis. Inovasi yang dibuat harus jelas. Juri itu tahu persis lho... Apakah inovasi yang kita buat itu berdasarkan problematika yang dihadapi atau inovasi itu dibuat sebelum adanya masalah, kayak dibuat-buat gitu....
Sebagai pembuktian, tentunya data-data penelitian/angket/instrumen penskoran/karya siswa/analisis data harus disiapkan. Ketika juri minta, tinggal tunjukkan saja. 
Ingat ya.. Inovasi yang diciptakan harus mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
3. Semar Mesem
Ajian Jawa satu ini jangan sampai ketinggalan yaa... eeittsss jangan berpikir aneh-aneh dulu...
Jurus ini hendaknya dipakai ketika kita presentasi. Mesem (senyum) itu penting, tapi jangan senyum-senyum sendiri... nanti dikira gila...
Ketika presentasi, sebaiknya murah senyum apapun keadaannya. Mau kita dibantai atau disanjung, tetaplah tersenyum. Perhatikan "Unggah-Ungguh" terhadap juri. Juri itu juga menilai ketika peserta berdiri, berbicara, berbusana, bahkan diam dan memegang mic juga dinilai. 
Jangan sampai salah diksi... gunakan diksi ilmiah.... Masih ingat dulu ada yang selalu mengucapkan "rangsangan" heeee... juri langsung nyengir... gunakanlah diksi "Stimulus", dll.
Ingat yaa... Sopan santun itu wajib. Boleh ngeyel asal santun... Dengarkan masukan juri, jangan terbawa emosi yaaa.... Heheee... kontrol emosi... Suasana final itu melebihi sidang tesis, menurutku...
4. Jaka Sembung numpak becak
Pahami betul-betul pertanyaan juri, jangan sampai pertanyaannya tentang A, malah jawabannya B. Pastikan juga judul dan simpulan sinkron alias nyambung, alat ukur jelas, tdak membuat akronim "aneh-aneh" dan negatif. Banyak peserta yang menggunakan akronim yang dipaksakan.... contoh... Media Kolang.. (Komik Pelangi)... heheee... hindari yaa....
5. Doa tembus langit ketujuh
Ketika ikhtiyar sudah dilakukan, tinggallah memohon pada Allah SWT. Kepada-Nyalah Kita memohon yang terbaik.

Display pameran bisa cek dan ricek di akun fb dan ig-ku ya....

Naskah Inobel Nani Nurcahyani klik di sini.

INGAATTTT... JUARA ITU BONUS, ilmu, pengalaman,  dan persaudaraan yang kita dapatkan selama perlombaan itu yang utama.

Quote: "Orang yang sukses, bukanlah orang yang tidak pernah gagal, tetapi orang yang mampu bangkit dari kegagalan untuk meraih kesuksesan yang tertunda"

Semoga apa yang saya bagi ini bermanfaat. Selamat berlomba....
Semoga juara......
Semangat yaa...
Salam Komik Pelangi

#Nani Nurcahyani
#SMPN 1 Tumpang
#Kabupaten Malang
#fb : Nani Bilqish
#ig : @pelangi1717








Sabtu, 09 Februari 2019

Serba-Serbi Adiwiyata

GERAKAN 6M PEDULI LINGKUNGAN DI SMP NEGERI 1 TUMPANG
MENUJU ADIWIYATA MANDIRI

Nani Nurcahyani, S.Pd., M.Pd.
Sekretaris Adwiyata  SMP Negeri 1 Tumpang Kabupaten Malang
Email : nani.sumawe@gmail.com


Program adiwiyata merupakan program khusus yang harus dilaksanakan oleh pihak sekolah. Program ini menyatu dalam 8 Standar Nasional Pendidikan sehingga pada proses pelaksanaannya tetap menjadi satu-kesatuan yang utuh dan bulat sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan hidup yang menjadi inti dari program adiwiyata tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada tiap jenjang pendidikan di Indonesia.
Adiwiyata berasal dari kata Sansekerta yaitu ‘adi’ dan ‘wiyata’.  'Adi' bermakna besar, agung, baik, ideal atau sempurna, sedangkan 'wiyata' bermakna tempat di mana seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan, norma, dan etika dalam berkehidupan sosial. Bila kedua kata tersebut digabung maka secara keseluruhan maknanya adalah tempat yang baik dan ideal di mana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.
Program ini merupakan upaya menciptakan lingkungan yang asri dan bersih serta berperan aktif dalam memperbaiki kualitas udara di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Memberikan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan untuk diwariskan kepada  generasi yang akan datang. Oleh karena itu, sekolah SMPN 1 Tumpang diharapkan menjadi motor dalam upaya penyadaran masyarakat terutama generasi muda dalam menjaga lingkungan.
Kesadaran  manusia  terhadap  pelestarian lingkungan masih rendah. Hal ini terbukti  dengan  banyaknya  bencana  yang  terjadi  di  Indonesia  maupun  dunia.  Bencana ini terjadi karena faktor alam dan ulah manusia.  Perilaku yang dapat menyebabkan bencana, misal penggunaan listrik  dan  air  yang  berlebihan  dapat  mengakibatkan  berkurangnya  sumber  daya alam;  membuang  sampah  sembarangan  seperti di sungai,  jalan,  selokan menyebabkan  banjir,   sehingga  timbul  berbagai  macam  penyakit;  sampah  yang dibakar  juga  dapat mengakibatkan polusi udara dan tanah; dan jumlah kendaraan bermotor yang makin banyak dapat mengakibatkan  polusi udara.
Perkembangan  zaman  akibat  globalisasi  berpengaruh  terhadap  pelestarian alam dan  peradaban  manusia.  Kemajuan  teknologi pun  memunyai dampak  positif dan   negatif   terhadap   lingkungan.   Dampak   positif   kemajuan   teknologi   dapat dirasakan   dengan   semakin   majunya   peradaban   manusia,    misal   penggunaan internet  dan  gadget  dapat  dimanfaatkan  untuk  mengembangkan  ilmu  pengetahuan agar  bumi tetap  lestari.  Dampak  negatifnya  yaitu  menurunnya  peradaban  manusia untuk peduli terhadap lingkungan.
Berimtaq, berprestasi, berbudaya lingkungan, dan berwawasan global merupakan visi SMP  Negeri 1 Tumpang  yang merupakan  sekolah  adiwiyata  nasional menuju  mandiri.  Oleh sebab  itu, berbagai cara untuk  melestarikan lingkungan dilakukan oleh warga SMP  Negeri 1 Tumpang,  mulai siswa,  tenaga  pendidik,  tenaga  kependidikan,  komite,  orang  tua, dan  warga  sekitar  sekolah  ikut  berpartisipasi aktif dalam menyukseskan  program adiwiyata.
Tujuan program adiwiyata ini adalah untuk menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid dan pekerja lainnya), sehingga upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Program ini merupakan salah satu Program Kementerian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Program ini digulirkan untuk mengajak warga sekolah berpartisipasi melestarikan dan menjaga lingkungan hidup disekolah dan lingkungan disekitarnya.
 SMP  Negeri 1 Tumpang memunyai motto Be Clean, Be Green, Be Smart, dan  Be  Higienis.  Pelestarian  lingkungan  dapat  dilakukan  dari  hal  kecilseperti membuang sampah sesuai jenisnya di tempat sampah. SMP Negeri 1 Tumpang memunyai    gerakan    peduli    lingkungan    yang    disebut    Gerakan    6M    peduli lingkungan   di   SMP   Negeri   1   Tumpang   yaitu   (1)   mendaur   ulang   sampah anorganik;  (2)  mengaktifkan  gerakan  jumat  bersih;  (3)  mematikan  listrik  setelah selesai  digunakan;  (4)  memanfaatkan  air  secukupnya;  (5)  mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, (6) melakukan  reboisasi.
Upaya yang telah dilakukan di SMP Negeri 1 Tumpang dalam menyukseskan adiwiyata mandiri, yaitu mendaur ulang sampah anorganik. Sampah-sampah anorganik yang masih dapat dimanfaatkan dipilih dan dipilah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Kader lingkungan kelompok kerja "Daur Ulang" mengolah sampah anorganik tersebut menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Sampah anorganik disulap menjadi baju daur ulang, tas, dompet, sandal, dan tempat tisu yang cantik. Hari Bumi tahun 2018 diperingati dengan mengadakan lomba kreasi dan fashion show baju daur ulang perkelas.
Upaya lain yaitu mengaktifkan gerakan jumat bersih sebelem jam pertama dimulai. Jumat pagi diawali dengan membaca surat yasin dan asmaul husna bersama-sama, kemudian membersihkan kelas dan taman masing-masing kelas. memilih dan memilah sampai menjadi agenda rutin tiap jumat.
Masalah yang dihadapi SMPN 1 Tumpang adalah penggunaan listrik dan air masih cukup tinggi karena jumlah siswa, guru dan tenaga kependidikan seribu orang lebih. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan dalam menghemat penggunaan air dan listrik dengan menempel slogan dan poster hemat air dan listrik. 
Tata tertib sekolah melarang siswa mengendarai sepeda motor ke sekolah. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi polusi udara. Mereka dianjurkan mengendarai sepeda ontel atau gunung ke sekolah. Mengendarai sepeda ontel atau gunung dapat membuat badan lebih sehat dan bugar.
Reboisasi yang telah dilakukan, di antaranya menanam pohon di Embung, Stadion Kahuripan Turen bersama Bapak Bupati Malang, menanam pohon Bakau di Pantai Malang Selatan. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang juga menyumbang pohon, seperti duku, sukun, rambutan, dan beberapa jenis pohon lain kepada SMPN 1 Tumpang dan sekolah imbas. Pembibitan pun juga dilakukan di sekolah oleh kader lingkungan Kelompok Kerja "Pembibitan". Mulai penyiapan bahan dan alat sampai penananaman benih dan memindahkan bibit dilakukan secara kontinu.
Upaya yang telah dilakukan dalam pelestarian lingkungan bukannya tanpa hambatan. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan bukan hal mudah. Perlu waktu bertahun-tahun untuk menanamkan kesadaran kepada warga sekolah. Tim adiwiyata berjuang keras sejak tahun 2012 menjadi sekolah adiwiyata Kabupaten, 2013 menjadi sekolah adiwiyata provinsi, 2014 menjadi sekolah adiwiyata nasional. Sempat mati suri karena ada banyak hal yang menjadi hambatan, tetapi 2018 dan 2019 kami bangkit untuk menyukseskan adiwiyata mandiri. Tahun 2018 SMPN 1 Tumpang mengikuti lomba peduli lingkungan dan meraih juara I Lomba Environtment Rescuer Competition se-Malang Raya dan Pasuruan. Mereka tanpa lelah selalu mendengung-dengungkan kepedulian terhadap lingkungan di manapun dan kapanpun.
 Berdasarkan    paparan    di   atas   dapat   disimpulkan   bahwa   kesadaran masyarakat   terhadap    pelestarian   lingkungan   masih   rendah,    terbukti   dengan seringnya   terjadi   bencana. Pemerintah mencanangkan program adiwiyata di lingkungan sekolah untuk meminimalkan   bencana.   SMP   Negeri  1   Tumpang   sebagai  sekolah   adiwiyata nasional  memunyai  gerakan  peduli  lingkungan  yang  dimulai  hal  kecil  di  sekolah seperti membuang  sampah sesuai jenisnya di tempat sampah.  Gerakan 6M peduli lingkungan    tersebut    adalah    (1)    mendaur    ulang    sampah    anorganik;    (2) mengaktifkan   gerakan    jumat    bersih;    (3)    mematikan   listrik    setelah   selesai digunakan;   (4)   memanfaatkan   air   secukupnya;   (5)   mengurangi   penggunaan kendaraan bermotor, (6) melakukan  reboisasi.





Fb: Nani BilqishIg: @pelangi1717SMPN1TUMPANGTumpang, 9 Februari 2019